NU dan Kilafah Islamiyah


oleh : KH. Shalahuddin Wahid (Gus Wahid), Pengasuh Pesantren Tebuireng

Sejak Era Reformasi, sumbatan terhadap kebebasan berpendapat dan berserikat dibuka. Partai politik (parpol)baru bermunculan dengan berbagai latar belakang paham politik, kecuali yang berdasar komunisme.

Partai Islam adalah partai yang paling banyak muncul, tetapi jumlah perolehan suaranya tidak besar. Muncul juga ormas yang memperjuangkan gagasan politik, antara lain Hizbut Tahrir Indonesia dan Majelis MujahidinIndonesia.

Bilan Agustus 2007 HTI berhasil menyelenggarakan konferensi khilafah internasional (KKI). Keberhasilan itumemompa semangat anggota HTI di sejumlah tempat, khususnya di Jawa Timur sehingga menimbulkangesekan dengan aktivis NU.

Ketua Umum PBNU merasa perlu turun tangan dengan menyelenggarakan pertemuan dengan pengurustingkat cabang, kecamatan, kelurahan, serta membentuk unit organisasi di bawah kelurahan. PBNU gerahdengan kampanye HTI untuk menawarkan khilafah Islamiyah yang dianggap bisa memengaruhi sikap politik warga NU yang secara organisatoris telah menegaskan bahwa NKRI berdasar Pancasila adalah bentuk finaldari negara yang diinginkan NU.

Kyai Hasyim Muzadi telah meminta pemerintah melarang HTI karena dianggap dapat membahayakaneksistensi NKRI. Diberikannya izin kepada HTI untuk menyelenggarakan konferensi khilafah internasionalmenunjukkan pemerintah tidak khawatir terhadap HTI. Setuju atau tidak, sejalan dengan ketentuan UUDPasal 28, HTI tidak bisa dilarang, kecuali telah terbukti menimbulkan ketidaktertiban. Itu pun harus melaluiproses hukum.

Perlukah Khilafah?


Juli lalu saya diundang berbicara di depan forum yang diselenggarakan HTI di Surabaya. Seorang ulamaSudan yang menghadiri KKI mengunjungi Tebuireng dan mengadakan dialog dengan sejumlah asatidz dancendekiawan.

Di depan forum itu seorang ketua DPP HTI menyampaikan masalah bangsa, seperti kemiskinan,pengangguran, perusakan lingkungan, dan pendidikan yang tertinggal. Menurut HTI hanya ada satu jalanuntuk mengatasi masalah itu, yaitu mewujudkan khilafah Islamiyah.

Saat ini ekonomi global yang didominasi kapitalis menguasai perekonomian negara berkembang. Kondisi itumembuat rakyat negara berkembang tetap miskin dan bodoh karena tidak memperoleh pendidikan memadai.Akibatnya, mereka tidak mampu mengejar ketertinggalan mereka. Cengkeraman kapitalisme, menurut HTI,hanya dapat dilawan dengan khilafah Islamiyah yang mendorong dan memungkinkan kerja sama antarnegaraIslam.

Saya menanggapi pendapat itu. Pancasila sebagai dasar negara masih layak dipertahankan. Yang salah bukanPancasila, tapi sistem pemerintahan dan mental aparat dan pejabatnya. Dengan mental aparat dan pejabatseperti saat ini, dasar negara Islam atau bahkan khilafah Islamiyah pun tidak akan banyak membantu.

Di Indonesia pernah ada organisasi Komite Khilafat Indonesia (KKI). Pada saat Kemal Ataturk menghapuskan Dinasti Turki Utsmani karena dinasti itu ada penguasa yang despotik, banyak juga ulama Indonesia di dalam KKI menentangnya. Haji Agus Salim mengingatkan tokoh yang terlibat dalam KKIbahwa khilafah tidak memiliki relevansi dengan Indonesia.

Sejak itu KKI kehilangan momentumnya. Gagasan khilafah tidak menjadi wacana arus utama umat IslamIndonesia, seperti PSII, NU, dan Muhammadiyah.

Sebuah berita di koran akhir November 2007 melaporkan sebuah diskusi Abu Bakar Ba'asyir (MMI), SaidAgil Siradj (NU), dan Ismail Yusanto (HTI). Diskusi itu dihadiri sebagian besar pendukung MMI dan HTIyang kerap meneriakkan Allahu Akbar apabila Said Agil menyampaikan pandangannya tentang sikap NUyang berbeda dengan sikap MMI dan HTI.

Yang ditunjukkan penentang sikap NU itu tanpa disadari pihak MMI dan HTI adalah bentuk pemaksaanpendapat paling halus yang memperkuat penolakan masyarakat terhadap gagasan mereka. Belum menjadinegara Islam atau khilafah Islamiyah, mereka sudah memaksa orang untuk membenarkan pendapat mereka.Apalagi kalau sudah menjadi khilafah Islamiyah.

Dari dasar Islam ke Pancasila


Pada Muktamar NU pertengahan 1930-an di Banjarmasin, NU tidak mempersyaratkan negara Islam. NegaraHindia Belanda adalah suatu negara yang dapat memberi kesempatan warga NU menjalankan ketentuansyariat Islam. Fakta historis inilah yang sering dikemukakan sebagai argumen bahwa NU tidak menghendakinegara Islam.

Pada awal kemerdekaan semua ormas Islam bergabung dengan Partai Masyumi. Mereka memperjuangkannegara berdasar Islam. Tidak satu pun tokoh pergerakan memperjuangkan khilafah Islamiyah atau negara Indonesia yang menjadi bagian dari suatu organisasi negara internasional.

Perjuangan khilafah Islamiyah baru terdengar gaungnya di Indonesia pasca-Orde Baru. Didirikannya Nahdlatul Waton (di Jl Kawatan Gg IV Surabaya) yang dipelopori oleh Wahab Hasbulah dan Mas Mansyur,dengan visi membangun nasionalisme melalui pendidikan dengan dukungan HOS Cokroaminoto, RadenPanji Suroso, dan Sunjoto, menunjukkan kuatnya sikap kebangsaan sejumlah tokoh ormas Islam itu.

Ahmad Baso dalam tulisannya juga menunjukkan kuatnya sikap kebangsaan itu sebagai akibat dari pengaruh Syekh Zaini Dahlan, seorang ulama terkenal di Makkah, terhadap para muridnya antara lain KH HasyimAsy'ari dan para pendiri NU lainnya. Menurut saya, wajar kalau NU dan ormas Islam lain di dalam Masyumi memperjuangkan negara Islam pada awal kemerdekaan RI. Kalau tidak, malah tidak wajar.

Kita memperoleh kemerdekaan dan mendapat kesempatan membahas negara semacam apa yang akan kitadirikan. Mestinya tokoh utama NU saat itu banyak bergelut melalui pemikiran dengan kitab-kitab yang membawa para tokoh itu menuju cita-cita negara Islam. Pada saat itu negara Islam tidak berkonotasi negatif,kalau tidak mau disebut berkonotasi positif.

Partai NU bersama partai Islam lainnya memperjuangkan lagi dasar negara Islam dalam konstituante yang juga gagal. NU memperjuangkan posisi Piagam Jakarta saat Bung Karno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959yang menyatakan berlakunya kembali UUD 1945.

Piagam Jakarta dijadikan pertimbangan oleh BK bagi berlakunya kembali UUD 1945. Sebagian (kecil) wargaNU, yaitu yang aktif di PPP, sampai 2001 masih memperjuangkan negara bernuansa Piagam Jakarta. Tetapi,sebagian besar, yang di PKB dan Partai Golkar, memperjuangkan negara Pancasila yang Islami.

Bagi NU, kiblat perjuangan kemerdekaan adalah Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari. Panglima TNISudirman secara teratur menjaga kontak dengan beliau.

Salah satu wujud dari kepemimpinan beliau yang diakui secara luas adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945yang berdampak pada perjuangan rakyat Surabaya 10 November 1945. Saham kalangan NU di bawah kepemimpinan Hadratus Syech dalam mendirikan NKRI amat besar.

KHA Wahid Hasyim sebagai wakil NU di dalam BPUPKI berandil menyetujui Pancasila sebagai dasarnegara. Sejak dulu sampai sekarang, NU tidak pernah menyetujui khilafah Islamiyah.

NU memerlukan waktu hampir 40 tahun untuk menyadari bahwa Pancasila dan Islam bukanlah sesuatu yangbertentangan, tetapi berkesesuaian. Pada 1945 NU yang tergabung dalam Partai Masyumi memperjuangkanIslam sebagai dasar negara, tetapi gagal. Piagam Jakarta yang merupakan kompromi (22 Juni 1945) akhirnya juga terpaksa dibatalkan (18 Agustus 1945).

NU dan NKRI


Setelah Munas Alim Ulama NU pada 1983 menyetujui Dokumen Hubungan Islam dan Pancasila, NUmenyatakan NKRI berdasar Pancasila bentuk final, sama dengan TNI dan sejumlah partai kebangsaan.

Selama ini NKRI lebih ditekankan pada kesatuan wilayah geografis daripada kesatuan harapan, kesatuan cita-cita, atau kesatuan nasib rakyat. Pemerintah Orde Baru menggunakan pendekatan keamanan untuk mempertahankannya hingga terjadi pelanggaran HAM.

Menurut saya perdebatan tentang negara Islam atau khilafah Islamiyah atau negara Pancasila akan menghabiskan waktu dan energi. Kemaslahatan umum harus diletakkan di atas kepentingan pribadi,golongan, atau partai.

Ikhtisar


- Pancasila sebagai dasar negara masih layak dipertahankan.
- Sejarah mencatat tak pernah ada tokoh Islam yang menghendaki khilafah Islamiyah.
- Islam dan Pancasila tak pernah bertentangan.
Majelis Ta'lim As-Saef
Majelis Ta'lim As-Saef menyelenggarakan pengajian Bapak-bapak dan Ibu-Ibu serta pengajian Al-Qur'an untuk anak-anak.
Kp. Pojok Rt.08/01 Desa Bojongasih Kec. Parakansalak Kab. Sukabumi - Phone: 0816216422

Tambahkan Komentar Tutup Komentar

Disqus Comments